Jadah bakar merupakan olahan beras ketan yang dipadukan dengan kelapa parut, kemudian dikukus hingga matang dan ditumbuk sampai teksturnya benar-benar pulen. Setelah dibentuk dan dipotong-potong, jadah dibakar tanpa tambahan bumbu sehingga menghasilkan aroma panggang alami yang khas.
Camilan tradisional ini populer di Yogyakarta, Klaten, dan sejumlah daerah di Jawa Tengah. Selain mudah ditemui di pasar tradisional, jadah bakar juga kerap hadir di kawasan wisata. Harganya relatif terjangkau sehingga pas untuk teman bersantai.
Berbeda dengan jadah yang disajikan begitu saja, proses pembakaran memberikan cita rasa baru. Lapisan luar menjadi sedikit kering dan garing, sedangkan bagian dalam tetap lembut dan kenyal.
Terdapat variasi penyajian lain yang tidak kalah lezat. Beberapa orang menyantap jadah dengan siraman kinca gula merah yang manis legit, ada pula yang menambahkan taburan serundeng gurih. Jadah juga bisa digoreng hingga bagian luarnya renyah. Di beberapa daerah, jadah dibentuk kecil dan dibungkus daun pisang agar praktis dibawa sebagai bekal.
Perbedaan istilah juga penting diketahui. Jadah adalah olahan ketan yang telah dikukus dan ditumbuk hingga pulen, sedangkan jadah bakar adalah jadah yang dipanggang di atas bara api sehingga memiliki aroma smoky dan permukaan yang lebih garing.
Terkait bahan cair, jadah tidak harus menggunakan santan. Air panas dapat digunakan seperti pada resep sederhana. Namun, santan akan menghasilkan rasa yang lebih gurih dan aroma yang lebih kaya.
Untuk penyimpanan, jadah dapat bertahan sekitar 1–2 hari pada suhu ruang. Jika dimasukkan ke lemari pendingin, masa simpannya bisa mencapai sekitar 3–4 hari. Sebelum disajikan kembali, panaskan dengan cara dibakar atau dikukus agar teksturnya kembali lembut. Apabila jadah terasa keras setelah dingin, hal ini terjadi karena pati pada ketan mengalami proses pengerasan alami; pemanasan kembali membantu mengembalikan kekenyalannya.
Meski jadah bakar sangat cocok mendampingi kopi karena perpaduan gurih, pulen, dan aroma hasil pembakaran yang menyeimbangkan pahitnya kopi, camilan ini juga nikmat bersama teh hangat, wedang jahe, atau susu hangat. Disajikan dengan kinca gula merah dan serundeng sebagai pelengkap pun tetap memanjakan lidah.