Langkah awal dimulai dari pengupasan kulit luar secara tebal hingga bersih, kemudian daging umbi diiris tipis-tipis. Pengirisan tipis membantu mempercepat proses pengeluaran zat beracun sekaligus memudahkan pengeringan.
Potongan gadung kemudian dilumuri abu gosok atau abu sekam padi serta garam krosok secara merata. Pada tahap ini, irisan biasanya diremas lembut atau diinjak perlahan untuk membantu mengeluarkan cairan beracun dari pori-pori umbi. Setelah itu, irisan dijemur di bawah terik matahari hingga kering atau layu.
Sesudah penjemuran awal, irisan gadung direndam dalam air mengalir selama 3–4 hari agar sisa dioskorin dan sianida larut terbawa air. Jika tidak tersedia air mengalir, air rendaman diganti berkala setiap 2 jam sekali.
Berikutnya, irisan diangkat lalu dicuci bersih berkali-kali sampai air cucian jernih dan rasa asin atau pahitnya hilang. Terakhir, gadung dijemur kembali hingga benar-benar kering sebelum dapat digoreng menjadi keripik. Tanpa proses panjang dan teliti ini, senyawa toksik tidak akan hilang sepenuhnya; kompleksitas, risiko, dan lamanya waktu inilah yang membuat keripik gadung sulit diproduksi massal.